Kisah Dila

family
askgramps.org

Untuk keenam kalinya dia masuk ke ruang ICU. Beberapa bulan ini,ruang beraroma obat sudah jadi kawan setia. Hampir setiap bulan, kami bolak balik menyapanya. Rasanya kami sudah saling mengerti satu sama lain. Bahkan penghuni tetapnya pun telah akrab dengan kami.

Mereka selalu saja menyapa saat kami kembali, “Kenapa lagi?”. Kalimat itu pun yang menyapa kami dinihari tadi. Ketika ” Si Kukut” sebutan kami pada mobil karavan keluaran tahun 80-an. Si Kukut inilah yang juga kawan setia menemani saat dia kambuh.

Ini bukan cerita tentang saya, kami, atau mereka. Ini kisah seorang gadis dikeluarga kami. Nur Fadila namanya, kami memanggilnya Dila. Bocah yang cenderung tertutup namun tetap energik. Mungkin jika bukan karena keterbatasannya, dia sudah sukses seperti generasi milenial lainnya.

Namun, Tuhan memilik rencana lain. Menurut sang ibu, Dila lahir dengan keadaan fisik. Dia tidak sesehat bayi pada umumnya. Badannya sedari kecil sudah rentan. Bahkan bidan mewanti-wanti sang ibu saat dia didalam kandungan. Menurut bidan kelahiran Dila harus ditangani secara profesional, dengan peralatan kesehatan yang mumpuni dirumah sakit. Bukan dibidan atau bahkan dukun beranak.

Tapi lagi-lagi, Tuhan berencana lain. Gadis ini lahir, saat sang ibu berkunjung ketempat saudara di luar kota. Nekat memang, dengan kondisi hamil besar ibunya pergi ke Bandung dengan kendaraan umum. Dibenaknya kala itu, waktu melahirkan yang “diramalkan” dokter masih beberapa minggu. Ternyata Tuhan sekali lagi menunjukan kuasanya. Ramalan dokter itu salah, sang ibu harus melahirkan di Bandung dengan dibantu bidan setempat. Jadwal kelahiran itu maju beberapa minggu.

Dengan dibantu seorang bidan, bayi mungil itu lahir kedunia. Menyapa sang ibu, mungkin jika dia bisa berkata saat itu, “Ibu aku sudah lahir, dokter itu salah. Dia tidak punya kuasa apapun atas hidupku”.

Lantas, bayi kecil itu tumbuh layaknya anak seusianya. Meskipun tubuhnya tidak sebugar anak lainnya. Dan tragedi itu pun terjadi, satu peristiwa yang mengubah hidupnya selama. Bukan hanya hidupnya, tapi hidup kami. Dila kecil yang ceria jatuh dari selasar rumah. Bocah yang sedang serba ingin tahu ini terjerembab dan membuat sikutnya terluka. Sang ibu yang mengetahui kondisi anaknya itu, langsung melarikannya ke puskesmas terdekat.

Merasa itu hanya kecelakaan biasa, Dila kecil hanya mendapatkan perawatan sekedarnya. Selain kepengobatan konvensional, sang ibu pun membawanya ketukang urut. Perlu kalian tahu, awal 90-an informasi tidak semudah sekarang. Tidak ada ilmu kedokteran yang bertebaran di internet. Bahkan internet masih menjadi barang mewah kala itu.

Inilah salah satu penyebab keterlambatan penanganan penyakitnya. Si ibu terlambat mengetahui kondisi anaknya yang sebenarnya. Luka ringan akibat terjatuh itu tak kunjung sembuh, bahkan kondisi tangan kirinya mulai menunjukan perubahan. Penyakit itu sudah terlanjur menyebar.

Berbagai pengobatan sudah dilakukan untuk mengetahui kondisi anaknya itu. Mulai dari rumah sakit hingga pengobatan altrenatif dilakukan. Tapi kondisinya tidak menunjukan perubahan. Saat sang ibu sudah putus asa, akhirnya setitik harapan muncul. Seorang dokter berhasil mendiagnosa penyakitnya.

Virus, begitu dokter menyebutnya. Ya sebuah virus menyerang si buah hati tercintanya. Mungkin kabar itu bukan berita gembira. Tapi cukup memuaskan rasa ingin tahu perihal penyakit anaknya. Dan memang benar saja, sebuah badai berikutnya pun datang mengiringi kabar itu. Dokter mendiagnosa anak itu tidak akan hidup lama, bahkan jikapun hidup hanya akan berbaring ditempat tidur dengan tubuh lumpuh. Untuk berjalan pun tidak akan pernah bisa.

Kabar itu bagai petir menyambar disiang bolong. Sang ibu hanya bisa terdiam lemas. Seolah seluruh sendinya dicabuti. Anaknya tercinta harus menanggung beban seberat itu. Meskipun dokter itu menghibur dengan mengatakan seandainya Dila kecil cepat mendapatkan pertolongan, mungkin hidupnya bisa terselamatkan.

Hati seorang ibu mana yang tidak hancur mendengar kabar itu. Sekuat apapun tetap saja itu hati seorang manusia. Vonis itu meluluh lantahkan hidupnya. Hari-hari indah dan mimpinya hilang seketika. Menguap tidak bersisa.

Dengan harapan yang tersisa, si ibu hanya bisa mengadu pada sang Khaliq. Pemilik segalanya, yang Maha mencipta dan Maha Kuasa. Tidak ada yang tidak mjngkin Bagi-NYA. Jika DIA sudah berkehendak maka semua akan terjadi. Kun fayakun begitulah kira-kira.

Doa si ibu pun dijawab, Tuhan menyelipkan secuil semangat. Meskipun hanya secuil, itu lebih dari cukup untuk ibu Dila kecil ini bangkit. Tidak mau terlena dalam keterpurukan, dia bangkit. Melawan vonis yang menyakitkan itu. Baginya Tuhanlah yang Maha berkehendak, pemilik segalanya. Tidak ada yang tidak mungkin Bagi-Nya.

Dengan tenaga dan harapan yang tersisa, sang ibu dengan telaten membesarkan Dila. Melatihnya berjalan dan berkomunikasi. Setiap hari, Dila dilatih berjalan direrumputan berembun untuk merangsang syaraf-syarafnya. Dan Boom, keajaiban pun terjadi. Tuhan sekali lagi mematahkan ramalan dokter itu. Dila kecil bisa berjalan, berbicara, bahkan berinteraksi. Meskipun penyakit itu harus memakan tangan kirinya. Tapi keceriaan bocah kecil itu perlahan mulai kembali.

Hari-harinya kembali berwarna, Dila kecil bahkan dapat bersekolah dan memiliki teman. 26 tahun lebih telah terlewati. Kutukan dokter tentang umur Dila pun terpatahkan. Bocah mungil yang divonis dengan umur pendek, sekarang sudah menjadi gadis dewasa. Tumbuh besar bersama kasih sayang keluarga, meskipun dengan sedikit kekurangan.

***********

Disinilah Dila sekarang, terbaring lemas di pojok ruang ICU. Tangan dan kakinya habis oleh tusukan jarum. Malam tadi saya menyaksikan sendiri, saat para perawat menusukan jarum-jarum ke tangan dan kakinya. Lebih dari tujuh kali perawat itu menusukan jarum mencari nadinya. Meski tak sadarkan diri, sekilas saya lihat tangannya mengepal dan air matanya menetes menahan rasa sakit. Saat ini, rasa sakit telah menjadi kawan akrabnya. Entah apa yang ada dipikirannya, hanya dia yang tahu.

Setelah 26 tahun lebih bertahan dengan penyakitnya, akhirnya dia ambruk juga. 26 tahun bukan waktu yang sebentar. Dokter yang menanganinya pun terkejut, dengan Dila yang masih sanggup bertahan hingga kini.

Setelah beberapa kali keluar masuk rumah sakit, dokter yamg menanganinya mengatakan kenyataan pahit lainnya. Virus yang menyerang Dila telah sampai keotak. Secara medis, dokter sudah tidak bisa melakukan apapun. Hanya bisa memberikan obat untuk menekan penyakitnya itu.

Lagi dan lagi, Tuhan selalu mempunya rencana. Saat ini kami hanya bisa pasrah, mengusahakan yang terbaik. Menyerahkan semuanya pada Sang Pencipta. Pemilik segalanya yang Maha Kuasa. Karena sejak awal hidup dan mati sudah disuratkan jauh sebelum kita dilahirkan.

Kami akan selalu ada dan mendukungnya. Semoga kau cepat sembuh, dan kita bisa bercengkerama kembali. Menjadi keluarga utuh. Bernyanyi dan menari dengan si kecil nala.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s