Terjerumus di Dunia Jurnalistik

Logo-Jurnalistik-1024x354
dok.edenpemalang.blogspot.co.id

Meski pun garis hidup tak tertebak semua juga kudu ada rencana atau memilih mengalir seperti air. Bahkan perjalanan kita sendiri pun gak pernah tahu. Sering saya mendengar kabar teman lama yang sudah berprofesi sebagai guru, dokter, wirausaha, dan lainnya.

Komentar saya cuma satu “Kok bias sih?”. Si badung dan super pecicilan itu jadi guru atau si pendiam itu jadi dokter. Lucu memang membayangkan kelakuan mereka dulu dengan profesinya saat ini, yang cenderung bertolakbelakang.

Ya namanya juga garis hidup, gak ada yang tahu. Termasuk perjalanan saya sekarang, gak pernah menyangka saya bakal jadi jurnalis. Memang sih dari kecil sudah suka sama buku, tapi gak pernah ngebayangin memilih profesi ini.

Profesi yang penuh dengan resiko, setiap saat bisa jadi nyawa melayang. Apalagi kalo berita yang diangkat sensitif dan menyinggung orang berkuasa. Jadi jangan heran banyak jurnalis masuk berita karena kehilangan nyawa.

Meskipun penuh resiko, tapi rasanya saya gak pernah nyesel berprofesi sebagai jurnalis. Banyak hal menarik dan pengalaman baru setiap harinya. Bertemu tokoh penting, hingga orang pinggiran yang dari merekalah, saya banyak belajar tentang kehidupan.

Awal ketertarikan saya dengan dunia jurnalistik, mungkin ditularkan dari sebuah acara televisi. Saat itu awal 2000-an sedang boming-bomingnya acara penjelajahan alam liar. Saya mulai tertarik dengan jurnalistik.

Bekerja sambil ” jalan-jalan” itulah yang terbersit dipikiran saya kala itu. Lambat laun saya mulai mencari tahu apa itu “jurnlistik”, kalo bahasa sekarangnya PDKT. Hingga akhirnya saya terdampar di salahsatu kampus negeri sekitaran ciputat.

Empat  tahun saya habiskan makan bangku kuliah, semuanya gak jauh-jauh ngebahas dunia jurnalistik. Dari teknik menulis, reportase, fotografi, hingga videografi saya lahap.

Berlatar belakang seperiti itulah yang membuat saya mantap berjalan didunia jurnalitik. Perjalanan jurnalitik saya pun dimulai sejak masih dibangku kuliah. Sebuah tawaran untuk mengelola majalah satu yayasan datang dari seorang teman.

Disanalah saya memulai karir sebagai seorang jurnalis. Di tempat ini saya diwajibkan untuk melakukan peliputan, baik berupa tulisan maupun foto. Disinilah saya mulai mengenal dunia jurnalistik secara profesional.

Berbekal pengalaman itu, usai lulus kuliah saya mencoba melamar kebeberapa media nasional. Beruntung salah satu media besar di Jakarta menerima saya sebagai reporter muda. Disana saya dididik oleh senior yang memang sudah lama berkecimpung dibidangnya.

Rasanya cukup lama saya berkantor disana, kemudian datang sebuah ide “gila” untuk mencoba hal baru. Ya ide “gila” itu mendorong saya pindah “haluan”. Saya mengambil kesempatan untuk menjadi wartawan foto.

Proses pengambilan keputusan ini memang tidak gampang. Karena saya harus benar-benar berubah total, perbedaan pola kerja dan tentu saja kesulitannya juga berbeda. Tapi disitulah menariknya, sebuah dunia baru dengan berjuta kemungkinan.

Bahkan gara-gara itu, banyak teman yang keheranan. Sering saya jumpai komentar “loh kok sekarang moto? Bukannya dulu nulis”. Bahkan setelah saya menjadi wartawan foto pun orang masih suka keheranan saat saya cerita dulu saya pernah menjadi reporter.

Karena saya selalu berfikir, semua itu hanyalah alat atau media untuk menyalurkan informasi jadi kenapa harus mengkotak-kotakan. Memang kerakter media penyampaianya berbeda, bahkan 180 derajat jauhnya.

Jadi jangan heran kalo akhirnya saya ” terperangkap” dengan sukarela diprofesi ini. Hanya saja, terkadang teman seprofesi selalu heran perihal saya yang beberapa kali berubah “haluan”. Dari wartawan tulis pindah kewartawan foto, dan tidak menutup kemungkinan saya akan mencoba video juga.

Tapi bagi saya bukan suatu alasan untuk mengkotak-kotakannya. Menurut saya semua itu hanyalah sarana untuk berekspresi, jadi kenapa tidak dicoba saja semuanya.

Ada sebuah kata mutiara yang selalu menarik untuk direnungkan, bahkan saat saya jatuh sekalipun. Dia bisa menjadi penyemangat dalam hidup. Begini kira-kira ungkapan tersebut;

“Terkadang hidup memerlukan  pengalaman untuk memahami kehidupan”

Jadi mumpung masih ada umur, apa salahnya terus mencoba hal baru dan berproses? karena hidup adalah perjalanan yang akan terus berproses untuk mencapai akhir. Lebih baik mencoba dan menyesal, daripada tidak pernah mencoba sama sekali dan menyesal.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s