Dipersimpangan Kanan Jalan

Berawal dari curhat kegalauan seorang kawan, dia berkeluh kesah satu persatu teman seperjuangannya “pergi”. Mencari peruntungan ditempat lain dan menggapai impian yang tertunda. Saat itu saya hanya diam. Rasanya dia hanya membutuhkan tempat curhat dan pendengar yang baik kala itu. Semua kata-kata yang meluncur saya cerna dengan seksama,  tanpa menolak sepatah kata pun yang ia utarakan.

Berawal dari curhatan itu, saya merenung disore hari yang kelabu ditemani secangkir kopi. Angin sepoi pasca hujan menyapa saya. Mengelus dengan perlahan permukaan kulit.  Lalu  saya terbuai dan imaji ini melayang jauh. Mengawang-awang mencari secerca pencerahan.

Memori saya kembali pada beberapa tahun silam, kala mendengarkan guru ngaji di surau kampung. Ya duduk dengan hidmat mendengarkan pembahasan tentang kehidupan. Sang guru membuka beberapa halaman dari kitab yang sudah mulai menguning. Kami menyebutnya kitab kuning, mungkin karena bahan kertasnya berwarna kuning, meskipun kitab itu sendiri memiliki nama. Entah apa namanya, sayapun sudah lupa.

Menurut beliau hidup hanyalah perjalanan singkat. Kita didunia hanya numpang lewat, mempersiapkan bekal untuk diakirat kelak. Dan setiap perjalanan pasti menemukan persimpangan, yang harus dilalui. Karena itu lah beliau berpesan bahwa agama adalah pedoman agar tidak tersesat.

Petuah itu sudah belasan tahun lalu saya dengar, namun masih membekas hingga kini. Saya pikir sangat lumrah jika hidup adalah pejalanan. Pasti akan ada pejumpaan dan perpisahan yang mengiringinya. Sudah kodratnya dari yang kuasa. Sama halnya seperti pagi yang datang ditandai mentari terbit di ufuk timur, lalu beranjak pergi diiringi lembayung senja.

Begitulah hidup yang hanya persinggahan, akan selalu ada persimpangan yang membuat perpisahan dan pertemuan yang baru gumam saya. Terkadang memang berat melangkahkan kaki menuju persimpangan itu. Tapi hidup memang sebuah pilihan. Selalu ada persimpangan dan pilihan yang membuat hidup akan terus melaju.

“Persimpangan kanan jalan” begitu saya menyebutnya. Kenapa kanan bukan kiri? Dari seorang kenalan yang melatih di sekolah kepribadian. Pemaknaan “Kanan” dan “Kiri” ,jangan disamakan dengan baik dan buruk.

“Kanan” dan “Kiri” menurutnya hanyalah sebuah perumpamaan. Makna “Kanan” diidentikan dengan hal-hal yang sangat dipercaya. Makanya ada istilah tangan kanan atau orang kepecayaan. Bahkan saat beraktifitas pun manusia selalu menggunakan tangan kanan, meskipun dia kidal tapi saat berjabat tangan pasti menggunakan tangan kanan.

Jadi tak ada salahnya menggunakan istilah itu bukan? “Persimpangan kanan jalan” ini lah yang selalu manusia temukan dan pilih. Manusia akan memilih jalan yang menurutnya paling baik. Tetapi setiap pilihan dari persimpangan itu ada resiko yang harus ditanggung. Entah baik atau buruk tidak ada yang tahu.

Mungkin teman dari kawan saya itupun tahu, pilihan yang diambilnya memiliki konsekuensi. Tapi dia tetap melangkah dan menjalani pilihan itu. Lantas apakah itu salah? Tidak! Tidak ada yang salah, karena tidak ada yang tahu masa depan akan seperti apa. Bisa saja pilihannya itu benar atau bahkan merugikannya. Yang pasti dia melangkah dengan yakin bahwa pilihan itu memang yang terbaik untuknya. Jadi rasanya sebagai kawan yang baik kita hanya bisa mendukung apa yang telah kawan kita pilih. Meskipun itu berakhir dengan perpisahan.

Hidup itu pilihan kawan. Jika harus jujur, rasanya saya tidak pernah suka dengan perpisahan. Terlalu sentimentil memang, namun saya adalah orang yang susah bergaul untuk menjalin pertemanan. Bagi saya membangun pertemanan bukan soal kuantitas, tapi kualitas.

Dulu saat masih sekolah, setiap acara perpisahan sekolah. Saya pasti menjadi orang yang terakhir pulang dan pergi meninggalkan kompleks sekolah. Saya akan selalu melihat punggung dan langkah kaki teman-teman yang berjalan pergi. Rasanya berat pertemanan yang sudah dijalin bertahun-tahun kandas begitu saja.

Tapi saya tahu, setiap perjumpaan akan ada perpisahan. Selalu ada persimpangan yang membuat kita terpisah satu sama lain. Dihadapkan oleh pilihan yang saling berbeda. Tapi saya tidak pernah lupa, setiap persimpangan akan ada pertemuan dengan hal-hal  baru, teman, pekerjaan atau bahkan tantangan baru.

Dulu saya pernah menjalin persahaban yang begitu erat, kami menyebutnya trio kwek (ya karena memang kami berjumlah tiga orang). Kemana-mana kami selalu bertiga, rasanya persahabatan itu tidak akan pernah rusak. Namun lagi-lagi, saya (kami) dipertemukan pada persimpangan. Dan kami memilih jalan yang berbeda.

Pilihan yang harus diambil karena kami memiliki mimpi yang harus dicapai. Dari persimpangan-persimpangan itu lah saya, kami, kita ada sekarang. Pilihan yang kita tidak pernah tahu ujungnya. Karena memang hidup hanya sebuah perjalanan panjang. Hingga saatnya tiba berlabuh dan mempertanggung jawabkan dari setiap pilihan persimpangan yang telah pilih.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s