Berburu rumah impian #part2

Rumah sudah jelas menjadi kebutuhan pokok setiap orang. Sama seperti slogan “Sandang, Pangan, dan Papan”. Tiga slogan hak pokok dasar manusia. Berbagai cara akan dilakukan untuk memenuhi tiga hal tersebut.

Namun adakalanya semua yang dilakukan tidak selalu berbuah manis. Seringkali kemampuan finansial tidak berbanding lurus dengan kebutuhan yang ada. Harga-harga dan kebutuhan yang terus naik tidak pernah bisa imbang dengan pemasukan yang ada.

Apalagi jika sudah menyoal tempat hunian. Setiap orang pasti memiliki imajinasi hunian idamannya. Ada yang memimpikan hunian rumah sederhana yang diapit pegunungan dengan udara pagi yang sejuk, atau ada juga yang memimpikan rumah mewah berbalut emas permata. Semua itu sah saja, tapi mimpi tidak selalu sesuai dengan kenyataan.

Kenyataan sering kali lebih kejam dibanding ibu tiri. Memiliki rumah yang nyaman saja sangat sulit rasanya untuk golongan pekerja kelas bawah, termasuk saya.

Rasanya hanya mimpi untuk pekerja seperti saya, memiliki rumah di Ibukota. Gaji Upah Minimum Provinsi (UMP), bagai punguk merindukan bulan, ya tidak mungkin bisa. Bahkan janji manis pemimpin baru Jakarta tentang hunian DP nol rupiah, jelas bukan untuk golongan seperti saya.

Selalu ada tanda bintang (*) disetiap iklan manis yang dijanjikan siapapun. Termasuk janji DP 0 rupiah, yang mensyaratkan pembelian rumah DP 0 rupiah hanya diperuntukan pekerja dengan gaji minimal 7 juta rupiah. Ah emang itu hanya angin surga saja.

Mari kita lupakan janji-janji manis itu. Saatnya bangun kawan. Ada pepatah yang mengatakan “Selalu ada jalan menuju Roma” begitu kata orang. Dan begitu pula yang saya yakini. Pasti ada jalan untuk orang-orang yang bersungguh-sungguh.

Dijaman digital seperti sekarang semua yang dibutuhkan hampir selalu tersedia diinternet, termasuk informasi. Bagi saya yang sudah melek teknologi, internet menjadi senjata utama mencari informasi.

Dengan internetlah saya mencari informasi tentang perumahan disela-sela pekerjaan. Bahkan tak jarang mengunjungi pameran perumahan.

Dari situlah saya mengetahui hal-hal menyangkut properti. Salah satunya program sejuta rumah yang digelontorkan pemerintah melalui kementerian PUPR.

Program sejuta rumah merupakan program penyediaan rumah untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Rumahnya sendiri rata-rata bertipe 22, dengan spesifikasi yang cukup “layak”. Rumah ini dikenal dengan sebutan rumah subsidi, karena memang pemerintah memberikan subsidi dan beberapa keringanan untuk perumahan tersebut.

Salah satunya DP 1% dengan suku bunga flat 5% hingga lunas. Namun karena perumahan subsidi diperuntukan untuk masyarakat ” kurang mampu”, pemerintah memberikan syarat gaji pembeli tidak lebih dari 4 juta rupiah.

Tapi pada prakteknya, banyak oknum pengembang maupun pembeli yang memanfaatkan program ini untuk mencari keuntungan lebih. Pengembang nakal kerap kali melakukan kecurangan saat proses pembangunan rumah subsudi. Seperti mengurangi spesifikasi bangunan jadi hal biasa yang akan kita temui jika menyangkut rumah subsidi.

Seorang teman pernah bercerita tembok rumahnya jebol akibat ditabrak anaknya yang sedang bermain. Apakah anak itu punya kekuatan super? Jelas tidak mungkin, peristiwa itu menunjukan bahwa kualitas rumah subsidi seringkali tidak layak huni. Meskipun ada juga pengembang-pengembang jujur yang cukup manusiawi membangun rumah subsidi.

Sering kali saya mendengar orang berkelakar “Beli rumah subsidi jangan berharap banyak” atau “Beli rumah subsidi anggap aja cuma beli tanah”. Sepertinya sudah jadi rahasia umum ” Bobroknya” kualitas rumah subsidi.

Ada orang jahat tentu ada orang baik, itu selalu saya yakini. Toh Tuhan menciptakan semua hal selalu berpasang-pasangan. Jadi kalo ada pengembang yang curang, pasti ada pengembang yang baik, begitulah seharusnya.

Maka dengan niat dan tekat yang bulat, saya mulai mencari rumah subsidi yang “Manusiawi”. Daerah Jabodetabek menjadi fokus pencarian. Ditemani si kuda besi yang setia saya ditunggai. Bogor, Tangerang, dan Bekasi sukses dilibasnya hanya untuk mencari rumah ” Idaman”.

Agar saya tidak tertipu oleh pengembang curang, ada tiga hal yang wajib bin kudu dilakuin.

1. Pertama mencari informasi di internet.

Saat ini banyak situs penyedia informasi maupun jual-beli perumahan secara online. Jadi gunakanlah situs tersebut untuk mencari informasi awal.

Fokuskan juga pencarian mengenai tempat perumahan yang akan dicari, tipe perumaha, dan yang paling penting dana. Ya masa mau cari rumah satu miliar tapi cuma punya dana 200 juta. Jelas gak masuk akal kan.

2. Kedua kontak marketing

Menanyakan detail perumahan dan tidak lupa menanyakan proyek sebelumnya. Kenapa harus menanyakan proyek sebelumnya? Karena dari situ kita bisa lihat rekam jejak developer tersebut. Intinya jangan telalu percaya janji manis marketing maupun developer.

3. ketiga survey langsung ke lokasi perumahan.

Kalo bisa tidak perlu ditemani pihak marketing atau developer. Jadi kita bisa enak melihat-lihat dan bertanya pada warga sekitar atau RT/RW sejarah tanah yang dijadikan perumahan.

Jangan lupa kunjungi juga proyek sebelumnya yang dibangun developer. Semakin baik proyek yang pernah dibuat, maka bisa menjadi gambaran awal akan seperti apa proyek yang baru ini. Karena sudah lumrah jika marketing atau developer hanya menjual konsep berupa gambar dan maket perumahan. Jadi kita hanya disuguhi mimpi.

Nah cara-cara itulah yang saya gunakan sebagai modal untuk mencari rumah idaman. Jadi jangan terlalu berpaku pada janji manis pengembang.

Berhubung saya sudah menfokuskan mencari rumah subsidi, maka pencarian pun lebih mudah. Banyak sekali informasi yang tersebar diinternet yang menjual rumah tipe subsidi, bahkan dipameran-pameran propertipun selalu ada yang menjajakan rumah subsidi.

Dari seringnya saya mencari informasi, saya bisa mempetakan kalo kebanyakan rumah subsidi selalu berada didaerah pinggiran kota atau kabupaten. Pertimbangan harga tanah yang mahal dipusat kota menjadi penyebabnya.

Di daerah seperti Depok, rumah subsidi berada di wilayah Sasak Panjang kearah Parung. Rupanya kebutuhan tanah membuat daerah yang dulu rawan ini, menjadi ramai dengan perumahan-perumahan baru.

Sedangkan untuk daerah Bogor, perumahan subsidi menyebar dibeberapa wilayah namun tetap berada dipinggiran kota. Seperti Cileungsi, Klapanungal, Jonggol, Leuwiliang, Dramaga, dan masih banyak lagi.

Begitupula daerah Bekasi dan Banten, semuanya tersebar didaerah pinggiran kota. Hampir bisa dipastikan tidak ada rumah subsidi yang berada ditengah kota. Jika ada orang yang menjanjikan rumah murah di tengah kota, patut dipertanyakan kebenarannya. Mungkin si empunya kabar sedang nyalon jadi kepala daerah, yang butuh suara kalangan bawah.

Satu hal yang pasti, jangan pernah berhenti bermimpi. Meskipun itu sulit, pasti selalu ada jalan. Tuhan tidak pernah memberikan beban yang melebihi kemampuan mahluknya. Jadi nyok terus bemimpi dan berusaha punya rumah idaman.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s