Harta Karun Itu Bernama Borneo

Sinar matahari lurus menembus sela-sela tirai yang terbuka. Menyilaukan mata, memaksanya untuk terbuka. Rasanya berat sekali badan ini, setelah melalui perjalanan maraton selama 4 jam.Menjelang pukul 3 pagi, saya akhirnya bisa beristirahat di sebuah penginapan. Namun apa boleh buat, rasa lapar mengalahkan mata yang masih ingin terpejam.
Langkah kaki gontai menuju jendela kamar, melihat kesekeliling. Rasanya waktu berjalan lambat. Denyut kehidupan masih belum bergerak. Sepi, hanya satu dua kendaraan berseliweran. Beberapa orang tengah lari pagi, menuju arah sungai Mahakam. Letak penginapan ini memang tidak begitu jauh dari sungai terbesar di Kalimantan, hanya beberapa ratus meter. Langit biru mulai menghiasi kota Samarinda, sepertinya hari ini akan cerah.
Hari ini, sesuai jadwal saya akan mengikuti diskusi dan pemaparan mengenai potensi karst (batuan kapur) di Kalimantan Timur. Rasanya hari ini akan panjang, maka saya memutuskan untuk mengisi perut terlebih dahulu. Seperti pengalaman yang sudah-sudah, diskusi seperti ini pasti akan lama dan menjemukan. Namun, apa daya ini harga yang harus dibayar untuk “Liburan” gratis kali ini.
Setelah mencuci muka, saya langsung turun ke lantai dua, tempat sarapan berada. Sesampainya di sana, sudah ramai orang-orang hilir mudik memilih makanan. Dan bercengkrama dengan teman semeja. Usai memilih beberapa makanan, saya menuju meja yang langsung menghadap jendela.

gunung karstBaru beberapa langkah, tiba-tiba sebuah suara membuat saya mengalihkan pandangan. Mengajak bergabung dengannya. Mas Hendri atasan saya di kantor yang menjabat wakil redaktur, datang bersama dari Jakarta. Lalu dia mengenalkan saya dengan seseorang berperawakan tinggi, berkacamata dengan rambut ikal di sampingnya. Namanya Dr.Pindi Setiawan, dia adalah peneliti asal Institut Teknologi Bandung (ITB) yang khusus meneliti karst di Kalimantan Timur (Kaltim).
Saya memanggilnya Pak Pindi, berhubung usia kami yang terpaut jauh. Setelah saling mengenalkan diri, kami pun menghabiskan waktu dengan bercengkrama mengenai permasalahan karst di Kaltim. Menurutnya, karst di Kaltim, khususnya wilayah Sangkulirang- Mangkalihat memiliki potensi  yang sangat besar dan bersejarah. Bahkan hasil penelitiannya menemukan gambar prasejarah tertua di asia tenggara. Pada dinding goa terdapat gambar hewan dan telapak tangan yang diperkirakan berusia 10.000 tahun sebelum masehi. Berdasarkan penemuan ini, karst Sangkulirang menjadi titik awal penyebaran rumpun manusia purba Austronesia ke Nusantara.

Dari obrolan itu, saya baru tahu ternyata Pak Pindi telah meneliti karst  Kaltim sejak 1994. Satu hal yang tidak pernah terbayangkan pada masa itu. Ketika kebanyakan penduduk indonesia sibuk dengan urusan politik. Tapi dia memilih datang ke pelosok kalimantan untuk meneliti karst.

Sebuah tulisan di kaos yang dikenakan Pak Pindi menarik pehatian saya. “Black Borneo” tertulis besar dibagian depan kaus itu. Sebelum saya sempat menanyakannya, Mas Hendri lebih dahulu menanyakannya. Pak Pindi menjelaskan istilah “Black Borneo” merupakan sebutan orang eropa yang datang ke Nusantara. Saat itu Kalimantan belum terpetakan, sehingga tidak ada yang tahu apa yang terdapat di Kalimantan. Baik itu ekosistemnya ataupun budayanya.

Termasuk tempat penelitian yang dilakukan oleh pak Pindi merupakan bagian “Black Borneo”. Penelitian yang dilakukan bersama timnya, akan dijadikan dasar untuk melindungi ekosistem yang ada didalamnya. Saya  hanya terdiam mendengarkannya bercerita. Sebuah mimpi yang diutarakan dengan antusias. Rupanya masih banyak orang-orang idealis di luar sana, dan salah satunya adalah dia.

***

Tidak terasa hangatnya pagi telah berlalu, berganti teriknya matahari siang. Menyengat seperti tusukan jarum yang terus berulang menghujam kulit. Tapi saya terlalu terpesona dengan keindahan alam Kalimantan, walau di tengah teriknya hari. Warna biru tidak pernah hilang memayungi kota ini, membuat sengatan matahari tidak ada artinya.

Sesuai jadwal,saya harus menghadiri pertemuan antara penjabat dan peneliti yang akan memaparkan hasil awal penelitian. Kami pun meluncur menuju gedung pemerintahan Kaltim. Menggunakan mobil pinjaman dari seorang kenalan, kami langsung melaju dengan perlahan. Maklumlah jarak antara gedung pemerintahan dengan penginapan tidak jauh. Sepanjang pejalanan saya memerhatikan jalanan didominasi mobil-mobil double cabin. Meski ada pula mobil tipe keluarga tapi lebih banyak berseliweran mobil besar. Kontur daerah Kalimantan memang memerlukan mobil tangguh untuk menaklukan medannya.

Tidak lama mobil pun memasuki halaman gedung pemerintahan Kaltim, tidak ada yang berbeda dengan gedung pemerintahan ini. Hanya saja letaknya strategis, berada persis di depan sungai Mahakam.

Begitu tiba kami langsung menuju lantai dua, tempat diskusi diadakan. Ruang yang cukup luas itu tampak masih lengang, hanya beberapa orang sedang menunggu di ruang tunggu. Saya pun melihat jam, mungkin kami terlalu cepat datang. Rupanya tidak ada kesalahan, kami datang sesuai jadwal. Hmm kebiasanya yang tidak pernah berubah, ngaret!

30 menit kemudian barulah peserta mulai ramai dan acara pun dimulai. Dibuka oleh salah seorang perwakilan dari pemerintahan, lalu dilanjutkan oleh kepala peneliti mengenai hasil-hasil penemuan penelitian. Banyak sekali istilah biologi mengenai klasifikasi dan penamaan hewan dan tamanan, membuat saya bernostalgia dengan pelajaran biologi saat sekolah dulu.

Begitu banyak data dan istilah yang dijabarkan pada pertemuan ini. Otak rasanya penuh sesak, sulit untuk mencernanya. Perlahan mata mulai menutup akibat tidak mengerti apa yang sedang dibahas. Terlalu teoritis, gumam saya. Tapi saat mereka menunjukan foto pemandangan tentang karst di Sangkulirang-Mangkaliat saya langsung terbelalak. Hilang sudah kantuk seketika. Sungguh pemandangan yang sangat indah. Saya tidak pernah mengira, jauh dipedalaman Borneo menyimpah “Harta Karun” terpendam.

Foto pegunungan karst, gua-gua, danau dan hutan perawan yang begitu indah. Pastas saja istilah “Black Borneo” digunakan untuk menggambarkan Kalimantan. Mungkin inilah salah satu sebabnya. Apakah kalian pernah liat tebing-tebing karang menjulang seperti difilm fantasi, di sini di pedalaman Kalimantan mereka nyata tegak menjulang.  Atau mungkin kalian pernah melihat danau hijau dan jernih seperti di luar negeri, di sini banyak terbentuk dari aliran air karst. Sungguh membuat saya takjub dan merasa kerdil. Begitu indahnya bumi yang saya pijak ini, namun tidak banyak orang yang tahu. “Harta Karun” itu diam tersembunyi menanti untuk ditemukan.

Keindahan yang tidak bisa mungkin abaikan itu membuat saya refleks menyolek orang disamping, “Mas ini sebenarnya ini semua untuk apa?”. Maklum terlalu teoritis semua yang dijabarkan membuat kepala pusing. Lalu orang di samping saya itu menjelaskan dengan antusias. Bahwa semua ini akan digunakan sebagai data awal untuk rujukan membuat undang-undang yang akan melindungi karst dan ekosistemnya. Karena saat ini sudah banyak manusia rakus yang mengincar karst Kaltim.

goa merabu dok chris djoka2Ada istilah “Di mana ada gula pasti ada semut”. Karst Kalimantan saat ini sudah ada 13 investor yang siap untuk “Menerkamnya”, mengeruk keuntungan sesaat dengan menyulap karst menjadi semen.

Lalu saya terbayang demo baru-baru ini di Jakarta, aksi menolak pengoperasian pabrik semen di Kendeng, Jawa Timur. Hingga menewaskan satu orang. Mereka menolah pabrik semen karena dinilai akan merugikan para petani yang bergantung dangan air dari karst. Tidak terbayangkan jika “Harta Karun” itu dimakan oleh keserakahan dan ketamakan manusia.

Tiba-tiba salah seorang peserta bertanya, “Apa keuntungan dari menyelamatkan karst? Sedangkan membuat pabrik semen sudah jelas keuntungnya”. Pak Pindi pun angkat bicara, menurutnya pembuatan pabrik semen memang sangat menguntungkan untuk pendapatan daerah, tapi masyarakat sekitarnya tidak akan merasakannya. Namun jika potensi karst dimanfaatkan sebagai ekopark atau ekowisata, masyarakat akan merasakan manfaatnya secara langsung. Dia pun memberikan beberapa contoh, salah satunya membuat adventure camp, tempat di mana orang bisa naik gunung, arum jeram, panjat tebing maupun susur goa disatu tempat. Menurutnya hanya perlu kemauan untuk melaksanakannya.

Saya hanya bergumam dan kagum dengan apa yang didiskusikan di sini. Termasuk dengan orang “Gila” yang bernama Pak Pindi. Disaat orang tidak terpikirkan mengenai karst, dia telah memulainya puluhan tahun silam. Menyelamatkan dan melindungi potensi tersembunyi dari tempat yang bernama Borneo. Saya hanya berharap, semoga semangat dan cita-cita mulia ini tidak mati di tengah jalan oleh godaan keuntungan sesaat.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s