Berburu Rumah Impian

Pagi itu saya beserta istri dan si kecil berniat pergi ke pameran properti di Jakarta Convention Center (JCC) di Senayan, Jakarta. Yang di selenggarakan Bank Tabungan Nasional (BTN) dalam rangka ulang tahun ke-67, dengan tema Indonesia Properti Expo (IPEX). Cuaca mendung dan kurang bersahabat, tidak menyurutkan semangat kami untuk berburu rumah. Walau cuma liat-liat dan belum tentu beli juga. Toh tidak ada salahnya, pikir saya. Siapa tahu ketemu jodoh di sana.

Dengan modal nekat dan niat kami pun memantapkan diri untuk pergi. Sekalian ngajak si kecil jalan- jalan. Maklumlah bapaknya cuma lengang Sabtu- Minggu, jadi setiap libur pasti selalu minta jatah jalan- jalan. Biasanya kami menghabiskan libur untuk pergi ke taman dekat “Kosan'”, sekalian melatihnya berjalan. Tapi kali ini tak apa lah jalan- jalannya sedikit jauh. Sesekali si kecil juga harus mengenal dunia luar. Supaya nanti saat sudah besar tidak hanya jago kandang dan wawasannya luas.

Mengendarai kuda besi, kami bertiga melaju dengan santai di jalanan ibukota. Menikmati lengangnya Jakarta ketika hari libur. Ditambah lagi cuaca sejuk setelah turun hujan. Seandainya Jakarta setiap hari bisa seperti ini, pasti menyenangkan. Tak perlu ada simfoni bunyi kendaraan dengan ruwetnya kemacetan.

Istri saya mengomentari pemandangan di sepanjang jalan, “Banyak yang berubah ya?” katanya. Ya harap maklum, semenjak punya si kecil, istri saya sudah tidak bekerja. Dia memutuskan keluar untuk mengurusi si kecil. Kami sepakat si kecil harus diberikan yang terbaik dan mendapatkan haknya secara penuh. Kasih sayang, itulah haknya. Saya bangga dengan istri saya, dia berani mengambil keputusan itu. Meninggalkan karir yang selama ini dia bangun, hanya untuk si kecil. Menurut saya menjadi ibu rumah tangga (IRT) juga sebuah profesi yang mulia. Pekerjaan yang harus selalu siaga dan memastikan anaknya mendapatkan yang terbaik. IRT memang tidak pernah dianggap sebagai profesi, bahkan sering diremehkan. Tapi bagi kami, menitipkan anak pada pengasuh adalah kesalahan besar. Anak berhak mendapatkan kasih sayang seorang ibu dan itu mutlak. Tidak akan bisa digantikan oleh apapun di dunia.

Setelah satu jam berkendara akhirnya kami tiba di kompleks Senayan. Tujuan kami hanya satu, melihat pameran rumah. “Tumi pernah ke sini?” tanya saya pada istri.
“Belum” jawabnya singkat. Saya hanya tersenyum, berarti tidak salah menu liburan kali ini. Jalan- jalan cari rumah dan mengenalkan tempat baru pada mereka.

Sebelum masuk, kami diharuskan melakukan registrasi. Standar umum jika datang ke suatu pameran, melengkapi biodata dan lain- lain. Setelah selesai registrasi kami pun akhirnya masuk. Begitu masuk hawa pendingin ruangan begitu terasa. Dari pintu depan sudah berjajar stand dari agen penjualan properti. Mereka sibuk menawarkan setiap pengunjung yang datang. Rumah dengan harga ratusan juta hingga apartmen mewah di pusat kota mereka tawarkan. Tapi istri saya sudah mewanti- wanti, kita harus fokus ketujuan awal. “Cari rumah” katanya. Ya berhubung kami bawa si kecil jadi tidak banyak waktu dan beberapa kemungkinan yang bisa terjadi. Seandainya tiba- tiba si kecil ngamuk, saat kami lihat properti bisa bubar semua rencana yang sudah tersusun rapih.

Akhirnya kami langsung berjalan cepat ke tempat yang dituju. Target kami adalah mencari rumah bersubsidi atau yang harganya masih masuk akal. Maklum, tiap tahun properti selalu naik, sedangkan penghasian tidak selalu bisa mengimbangi. Kebutuhan manusia akan rumah yang terus bertambah mendorong harga terus melambung. Sesuai hukum ekonomi, semakin tinggi permintaan, harga akan semakin naik.

Kami pun mulai mendatangi beberapa stand properti, yang pasti harus sesuai kemampuan. Daerah pinggiran ibukota menjadi fokus pencarian kami. Hampir semua stand yang menawarkan rumah subsidi memiliki rentang harga yang sama, berkisar antara 130 juta hingga 150juta. Dan sebaran lokasinya pun hampir sama. Tangerang, Depok, dan Bogor menjadi pilihan yang terdekat dengan ibukota. Tapi wajar saja, rumah subsidi yang harganya murah pasti berlokasi di pinggiran. Harga tanah di pusat kota sudah terlalu tinggi untuk program pemerintah yng satu ini.

Membawa istri ke pameran ini rupanya pilihan yang paling tepat. Sebagai orang yang pernah bekerja di bidang properti, dia tahu betul mana properi yang “Bagus” dan yang hanya janji manis si penjual. Maklumlah saya masih awam di dunia properti. Tak terasa kami sudah berputar- putar selama hampir satu jam. Dan sudah ada setumpukan brosur ditangan. Berkeliling sambil menggendong si kecil rupanya cukup menguras tenaga. Kami pun beristirahat sambil menunaikan solat dzuhur. Serta menunggui si kecil secara bergantian.

Melihat anak- anak sebayanya berlarian, membuat si kecil ingin ikut bermain. Di usianya yang menginjak 13 bulan dan masanya belajar jalan, wajar jika dia tidak bisa diam. Sambil menunggu istri solat, saya menuruti si kecil berlari ke sana ke mari. Menuntunnya berlari kesetiap sudut ruangan rasanya lumayan juga. “Kok keringetan?” ledek istri saya saat selesai solat. Dia tahu kalo anaknya ini gak bisa diem. Di rumah saja kadang dia kewalahan. Ternyata menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang paling sulit sedunia. Harus 24 jam siaga 1, apalagi kalo sudah punya ekor.

Usai solat kami melanjutkan berkeliling dan setelah dirasa cukup kami pun pulang. “Semoga ketemu jodohnya ya” ucap saya kepada istri. Orang sering bilang mencari rumah ibarat mencari jodoh, cocok- cocokan. Mencari ke mana-mana, eh yang deket ternyata jodohnya. Bahkan belum tentu yang mahal yang terbaik. Ya seperti mencari jodoh lah, hanya kita dan Tuhan yang tahu. Si kecil pun terlelap begitu kuda besi dipacu. Kami pulang mengakhiri petualangan kali ini dengan sejumlah mimpi dikepala. Semoga setiap langkah yang kami ambil dimudahkan Tuhan yang maha kaya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: