Gallery

Imlek di Bun San Bio

vihara_nirmala_bun_san_bio_Matahari sudah di puncaknya saat saya menjejakan kaki di Vihara Bun San Bio atau juga dikenal dengan nama Vihara Nimmala. Teriknya sang surya serasa membakar kulit. Ratusan lampion yang menggantung menyapa saya begitu memasuki gerbang vihara. Denyut kehidupan sudah terasa. Petugas vihara dan pengunjung lalu lalang, sibuk dengan urusannya masing-masing.

Seorang petugas paruh baya menata lampion menggunakan tangga portable. Di pojok bangunan utama, bertumpuk Hio atau dupa persebahan ditata rapih menggunung. Berbagai macam makanan dan buah-buahan juga sudah rapih di altar pemujaan. Tak ketinggalan barisan lilin setinggi satu meter bahkan lebih, menghiasai vihara.

hio

Dekorasinya didominasi warna merah dan emas. Menurut kepercayaan masyarakat Tionghoa, warna merah merupakan perlambang keberuntungan dan sukacita. Sedangkan kuning atau emas dianggap sebagai warna yang paling indah dan simbol kaisar. Juga dianggap warna yang netral dan membawa keberuntungan. Suasana kemeriahan hari raya imlek sungguh terasa.

Vihara yang terletak di Jalan K.S. Tubun no.43 Desa Pasar Baru, Kelurahan Kranjaya, Karawaci, Tangerang ini telah berdiri lebih dari 200 tahun. Menurut sejarahnya pada tahun 1689 lalu, seorang saudagar Cina bernama Lim Tau Koen membawa patung Dewa Bumi (Kim Sing Kong-co Hok Tek Tjeng Sin) dari Banten. Sehingga dia mendirikan vihara di tanah seluas 1.650 meter persegi untuk menempatkan patung tersebut. Sungguh beruntung rasanya bisa melihat bangunan bersejarah ini. Melihat sebuah budaya yang telah ada dan tumbuh di negeri ini, bahkan sebelum negara ini merdeka.

Siang itu, hanya beberapa pengunjung yang datang untuk sembahyang. Sepasang suami istri berjalan beriringan melakukan persembahan, berdoa meminta keberuntungan dan kebaikan ditahun baru ini. Menjelang sore kawasan vihara mulai disesaki oleh pengunjung yang hendak beribadah. Bukan hanya keturunan Tionghoa yang datang tetapi ada sebagian penduduk muslim yang juga datang ke tempat ini. Biasanya mereka datang untuk berziarah di petilasan Raden Surya Kencana. Makam Raden Surya Kencana terletak dibagian belakang vihara. Bahkan Vihara Nimmala selalu mengadakan syukuran di setiap hari besar agama Islam. Sebuah akulturasi budaya yang semakin memperindah keberagaman di bumi nusantara.

patung_singaperlengkapan_sembahyangtungku_pembakaran

Semakin malam, vihara mulai dipadati oleh pengunjung. Asap hio dan lilin bercampur membuat mata perih. Serta bau menyengat yang menusuk hidung. Hujan yang mengguyur sejak sore tidak menyurutkan antusias pengunjung untuk datang ke vihara. Kemeriahan semakin menjadi saat tarian barongsai dan naga menyapa pengunjung.

Usai melihat salah satu kekayaan negeri ini, ngantuk dan letih mulai terasa. Sepertinya badan meminta haknya untuk istirahat. Beruntungnya seorang teman menawarkan menginap di rumahnya dan ikut merayakan Imlek di sana. Baru kali ini saya bisa melihat perayaan Imlek di tempat seintim ini. Tak berbeda jauh seperti perayaan di vihara. Di sini juga terdapat berbagai macam makanan dan buah-buahan yang di tempatkan di meja bersama dengan foto keluarga yang telah tiada. Tak lupa dupa juga ikut meramaikan meja jamuan itu. Bahkan salah seorang anggota keluarga memberi saya angpau. Baru kali ini saya menerima angpau saat Imlek. Biasanya saya menerimanya saat perayaan hari raya idul fitri waktu kecil dulu. Sungguh pengalaman baru bagi saya, dan ingin rasanya kaki ini terus melangkah untuk menjelajahi setiap sudut bumi nusantara. Belajar dari setiap budaya yang ada, serta melihat begitu luasnya bumi ini.

persembahan2angpau

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s