Mimpi kecil si anak kampung

Saya lahir dan besar di kampung dengan lingkungan yang masih asri. Seusai pulang sekolah selalu dihabiskan dengan bermain. Biasanya saya pergi bermain kesawah atau sungai bersama teman-teman sepermainan , sungguh pengalaman yang tidak bisa terlupakan.

Ketika saya kecil, saya melihat sebuah tayangan di telivisi tentang petualangan alam liar. Tayangan tersebut menayangkan keindahan serta keanekaragaman Nusantara. Semenjak itu saya berfikir, alangkah senangnya bisa menjadi pemandu acara tersebut! Dimana kerjanya berkeliling Indonesia dan melihat hal-hal yg selalu berbeda di tiap tempatnya.
Seiring berjalannya waktu, keinginan masa kecil saya itu bukannya hilang dan terlupakan. Namun, terus membesar dan membentuk impian yang lebih nyata. “Menjadi seorang jurnalis!” gumam saya waktu itu. Hingga akhirnya, saya memutuskan kuliah jurnalistik  di salah satu perguruan tinggi di Tangerang Selatan. Satu langkah kongkrit menggapai impian saya.

Selama empat tahun berjalan, saya masih mencari dan berpikir seperti apa profesi jurnalis yang saya inginkan. Banyak hal terjadi selama empat tahun itu, dan membentuk pemikiran yang baru. Namun, mimpi kecil itu tidak penah padam. Tanpa terasa masa kuliah itu berakhir dangan predikat yang cukup memuaskan. Dan hal yang menggembirakannya adalah saya diterima kerja di media nasional. Bahkan sebelum pesta perpisahan dan resmi dinyatakan lulus oleh pihak kampus.

Tetapi lagi-lagi saya ragu, profesi jurnalis seperti apa yang saya inginkan. Karena profesi jurnalis sendiri terbagi menjadi beberapa kelompok (Wartawan tulis, televisi, radio dan foto) sesuai dengan media siarnya. Terlepas dari itu, saya selalu berpikir, apa sebenarnya yang saya inginkan menjadi seorang jurnalis?

Walaupun ragu, saya tetap harus melangkah dan menentukan pilihan. Ini merupakan langkah awal mencapai impian kecil saya dulu dan biarkan waktu yang akan menjawabnya. Akhirnya saya putuskan untuk jadi wartawan tulis. “Menjerumuskan” diri menjadi seorang jurnalis. “Anggap saja belajar sambil mencari” pikir saya waktu itu. Ternyata saya hanya sanggup bertahan beberapa bulan. Sebuah pemikiran baru muncul “Mencoba yang lain” itu terngiang dikepala.

Dan kesempatan itupun datang, saya resmi pindah haluan menjadi pewarta foto. Saya diterima di sebuah majalah sebagai fotogarafer. Banyak hal yang saya lalui saat menjadi pewarta foto. Adaptasi adalah tantangan diawal saya bekerja sebagai fotografer. Ritme kerja yang berbeda membuat saya cukup kesulitan. Namun dengan bimbingan dari senior di kantor dan dukungan orang-orang dekat, membuat hal itu bisa terlewati.

Saya sangat menikmatinya profesi baru ini. berkeliling dan menemukan hal-hal baru setiap hari. Bahkan selalu ada pelajaran dari setiap narasumber. Pelajaran tentang kehidupan, tentang selalu bersyukur dan pasrah menjalani hidup, adalah nikmat terindah yang saya dapatkan dari mereka. Mengingatkan betapa kecilnya dan tidak pernah bersyukurnya saya dengan keadaan saat ini.

Namun, lagi-lagi pertanyaan lama itu muncul kembali. Ingin seperti apa profesi jurnalis yang saya inginkan? Untuk apa saya menjadi jurnalis?

Hingga saat ini, saya tidak pernah bisa menjawabnya dengan pasti. Seperti pertanyaan kenapa saya hidup? Untuk apa saya hidup? akan selalu ada pertanyaan itu hingga nanti. Tetapi satu hal yang pasti, saya ingin membagi semua pengalaman dan pelajaran tentang kehidupan dari semua narasumber yang pernah ditemui. Dan biarkan waktu yang menjawab semua pertanyaan yang selalu ada dibenakku.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

WordPress.com.

Up ↑

%d bloggers like this: